Ketua Umum PP FKRML
Tahun 2025 menjadi salah satu babak paling berharga dalam perjalanan hidupku. Tahun itu bukan hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga amanah yang begitu besar. Aku resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak (PP FKRML) dan dilantik bersama dua puluh dua remaja lainnya yang dipercaya menjadi pengurus. Momen tersebut bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan titik awal sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. Ketika berdiri bersama para pengurus yang baru dilantik, aku menyadari bahwa setiap langkah yang akan kami tempuh bukan lagi tentang kepentingan pribadi, melainkan tentang bagaimana menghadirkan manfaat bagi remaja masjid dan masyarakat yang lebih luas.
Saat namaku disebut dalam prosesi pengukuhan, perasaanku bercampur antara syukur, haru, dan rasa tanggung jawab. Aku teringat perjalanan panjang yang telah kulewati hingga berada di titik itu. Tidak ada pencapaian yang datang secara instan. Semua berawal dari proses belajar, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, membangun komunikasi dengan banyak kalangan, hingga terus berupaya memberikan kontribusi kecil bagi lingkungan sekitar. Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk keyakinanku bahwa setiap amanah harus diterima dengan kerendahan hati dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Aku memandang jabatan ini bukan sebagai simbol kehormatan, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Menjadi Ketua Umum berarti siap mendengarkan, merangkul, dan menggerakkan. Seorang pemimpin bukanlah orang yang berjalan paling depan untuk mencari pujian, tetapi seseorang yang mampu memastikan seluruh anggotanya dapat tumbuh bersama, saling menguatkan, dan bekerja menuju tujuan yang sama. Karena itulah, sejak awal aku bertekad membangun kepengurusan yang mengedepankan kebersamaan, musyawarah, dan semangat pengabdian.
Pelantikan bersama dua puluh dua remaja lainnya memberikan makna yang sangat mendalam bagiku. Kami datang dari latar belakang yang berbeda, membawa pengalaman dan kemampuan yang beragam. Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan. Kami dipersatukan oleh cita-cita yang sama, yaitu menjadikan Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak sebagai wadah pembinaan generasi muda yang aktif, kreatif, religius, dan peduli terhadap lingkungan sosial. Aku percaya bahwa organisasi akan berkembang apabila setiap pengurus mampu saling melengkapi, bukan saling menonjolkan diri.
Sebagai organisasi yang berangkat dari lingkungan masjid, kami memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya ramai di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aku ingin masjid menjadi ruang yang terbuka bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan potensi diri. Masjid bukan hanya tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga pusat peradaban yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.
Amanah ini juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas keteladanan. Aku tidak ingin hanya memberikan arahan, tetapi juga hadir dalam setiap proses, ikut bekerja, dan merasakan tantangan bersama seluruh pengurus. Bagiku, keberhasilan organisasi bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kolaborasi, kepercayaan, dan komitmen seluruh tim. Oleh karena itu, aku selalu berusaha menciptakan ruang komunikasi yang terbuka agar setiap pengurus dapat menyampaikan ide, kritik, maupun gagasan tanpa rasa sungkan.
Selama menjalankan amanah ini, aku menyadari bahwa tantangan generasi muda terus berkembang. Kemajuan teknologi membawa banyak peluang, tetapi juga menghadirkan berbagai persoalan baru. Karena itu, organisasi harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. Aku berharap Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak dapat menjadi wadah yang mampu menjawab kebutuhan remaja masa kini melalui program-program yang relevan, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Di balik kebahagiaan atas pelantikan tersebut, aku juga menyadari bahwa perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Sebuah jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian tidak mengenal masa akhir. Aku ingin masa kepengurusan ini diisi dengan karya nyata yang dapat dikenang sebagai bagian dari perjalanan organisasi. Aku berharap setiap program yang kami jalankan mampu memberikan manfaat bagi remaja, memperkuat ukhuwah, meningkatkan semangat literasi, menghidupkan kegiatan masjid, serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki kepedulian terhadap agama, bangsa, dan masyarakat.
Aku percaya bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itulah, aku selalu berusaha menjaga niat agar tetap lurus. Jabatan hanyalah titipan, sedangkan keikhlasan adalah fondasi yang harus terus dipelihara. Aku ingin kepemimpinan ini menjadi jalan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih sabar, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Ketika suatu hari masa kepengurusan ini berakhir, aku berharap bukan jabatan yang dikenang, melainkan kerja keras, kebersamaan, dan manfaat yang telah kami tinggalkan. Aku ingin setiap langkah yang kami tempuh menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi muda yang mencintai masjid, menghargai ilmu pengetahuan, serta memiliki semangat untuk mengabdi kepada masyarakat. Bagiku, amanat baru di tahun 2025 bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus berkarya, melayani, dan menghadirkan perubahan yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
